Kampung Keputihan Lestarikan Tradisi Tanpa Kemewahan

Posted on

CIREBON - Di zaman sekarang, masyarakat berlomba-lomba untuk memiliki tempat tinggal yang megah, indah, dan dihiasi berbagai barang yang mewah. Namun hal itu tak berlaku bagi masyarakat yang menghuni Kampung Keputihan.

Sebuah perkampungan yang memang tak lazim didengar ini berada di area tanah seluas kurang lebih lima hektare, tepatnya di RT 03 RW 05 Desa Kertasari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Masyarakat sekitar kampung ini dari dulu hingga sekarang tak berani untuk membangun rumah dengan kemewahan. Maka, rumah-rumah di lokasi tersebut yang hanya berjumlah 17 itu sejak dulu dibangun hanya menggunakan bambu dengan atap berupa rumput ilalang, hanya pondasinya saja yang menggunakan bata.

Diceritakan salah seorang warga setempat, Asmuni (37 tahun), kampung yang ia huni bersama keluarganya itu entah kenapa dinamakan Kampung Keputihan. Namun, ia hanya pernah mendapatkan cerita dari orang-orang tua yang lahir di kampungnya itu bahwa dulu tempat tersebut sebagai lokasi singgahnya Pangeran Ucuk Umun dari Banten bersama prajuritnya.

Kedatangan Pangeran Ucuk Umun dan singgah di tempat tersebut hingga membangun sebanyak 17 rumah gubuk itu, tak lain untuk melakukan penyerangan terhadap kerajaan Cirebon waktu dulu. Namun, belum sempat mereka melakukan penyerangan, telah terlebih dulu diketahui pihak kerajaan Cirebon hingga mereka disergap duluan.

“Setelah Pangeran Ucuk Umun dan prajuritnya takluk, mereka mau masuk Islam dengan syarat 17 rumah gubuk yang telah dibangunnya jangan dimusnahkan. Dan harus tetap seperti itu, tidak boleh diubah-ubah,” kata Asmuni yang juga menantu dari Ibu Tuti (80 tahun), salah seorang yang dianggap paling tua di kampung tersebut.

Maka hingga sekarang, menurut Asmuni, masyarakat asli Kampung Keputihan yang tinggal di situ tak berani untuk membangun rumah mereka dengan kondisi umumnya rumah-rumah yang ada di luar kampung tersebut. Seperti bangunanya berupa tembok, memakai genteng yang bagus, besi, kaca, dan lain sebagainya.

“Sebab katanya jika mambangun rumah seperti orang-orang yang ada di luar kampung ini, bisa mendapatkan celaka. Dan pernah ada yang berani membangun rumah tembok, semua keluarganya mendapatkan celaka hingga meninggal dunia,” kata Asmuni yang juga mantan ketua RT di kampung tersebut.

Meski diakuinya, masyarakat asli kampungnya sangat menginginkan tempat tinggal mereka seperti rumah-rumah pada umumnya. Namun lanjut Asmuni, sekitar tiga tahun terakhir ini masyarakat sudah mulai memberanikan diri membenahi rumah mereka meski tak sepenuhnya seperti rumah-rumah masyarakat yang ada di luar kampung tersebut.

Seperti di antaranya, mereka sudah berani memasang listrik yang dulunya hanya menggunakan “damar cempor”, kemudian genteng yang dulunya menggunakan rumput ilalang, sekarang sebagian sudah berupa asbes, dan juga mereka sudah memberanikan diri untuk menehel rumahnya dengan semen dari yang dulunya hanya berupa tanah liat saja.

“Tapi biasanya ada bahasa pamitan kepada leluhur sini ketika hendak mengubah rumahnya dengan agak mewah. Seperti gentengnya menggunakan asbes ya pamitan dulu, sebab ketika menggunakan ‘welit’ (rumput ilalang, Red) maksimal dua tahun sudah harus ganti lagi,” kata Asmuni mengakhiri, seperti diberitakan oleh KC Online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *