Kenali Beragam Pemeriksaan untuk Keputihan

Posted on

Anda mengalami keputihan? Keputihan tidak hanya mengganggu tetapi juga bisa berbahaya, Karena itu, penting untuk memahami beberapa pemeriksaan yang dipandang perlu.

Pemeriksaan yang bisa bisa dilakukannya di antaranya, pemeriksaan spekulum untuk mencari penyebab keputihan. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui dari mana asal keputihan, misalnya mulut rahim atau hanya hanya bersifat lokal dalam vagina. Kemudian bagaimana pula dinding vaginanya, apakah warna cairan keputihan yang keluar, bergumpal atau encer dan apakah melekat pada dinding vagina.

Lalu perlu juga pemeriksaan bagaimana dengan mulut rahim (portio) apakah tertutup oleh keputihan, adakah perlukaan atau mudah berdarah ketika keputihan itu keluar.

Tes pap smear digunakan untuk menunjukkan adanya amina-amina dengan menambahkan potassium hidroksid ke sampel yang diambil dari vagina dan untuk mengetahui bau yang tidak sedap. Pap smear biasa dilakukan oleh wanita yang sudah aktif secara seksual (baik sudah menikah maupun belum, namun bisa dilakukan pada wanita yang sudah menikah).

Jadi jika anda aktif secara seksual, diperbolehkan melakukan pap smear sebaga salah satu tindakan pemeriksaan dan diagnostik dengan cara mengambil jaringan mukosa leher rahim dengan memasukkan spekulum ke dalam liang vagina dan mengoleskan kapas/sikat khusus untuk mengambil sedikit sampel jaringan mulut rahim yang kemudian diperiksakan ke laboratorium.

Jadi jika Anda belum aktif secara seksual tindakan ini tentu tidak bisa dilakukan karena akan merusak selaput dara yang nota bene masih menjadi tanda bukti keperawanan bagi sebagian besar masyarakat.

Untuk keputihan yang Anda, bisa dilakukan pemeriksaan lendir vagina yang sudah keluar ke laboratorium atau melakukan pemeriksaan swab vagina dengan alat khusus keputihan. Biasanya penyakit ini disebabkan beberapa infeksi yang ditularkan melalui hubungan seks atau kondisi kebersihan organ intim yang buruk.

Pemeriksaan preparat basah dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan Nacl 0,9% pada sekret vagina di atas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Kemudian lakukan pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells, yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri( terutama Gardnerella Vaginalis). Preparat basah mempunyai sensitivitas 60% dan spesifitas 98% untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakteri vaginosis.

Ada juga pemeriksaan whiff test yang dinyatakan positif bila bau amis terdeteksi dengan penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina. Bau muncul sebagai akibat pelepasan amino dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob. Whiff test positif menunjukkan bakterial vaginosis.

Tes berikutnya mengunakan lakmus untuk pH. Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral vagina. Warna kertas dibandingkan dengan warna standar Ph vagina normal 3,8-4,2.Pada 80-90% bakterial vaginosis ditemukan pH 4,5.

Ada pula pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial vaginosis tidak ditemukan Lactobacillus sebaliknya ditemukan pertumbuhan berlebihan dari Gardnerella vaginalis dan atau Mobilincus Sp dan bakteri anaerob lainnya.

Pemeriksaan kultur Gardnerella vaginalis kurang bermanfaat untuk diagnosis bakterial vaginosis. Kultur vagina positif untuk G vaginalis pada bakterial vaginosis tanpa gejala klinis tidak perlu mendapat pengobatan.

Direct Immuneluorescence assay. Cara ini lebih sensitif daripada apusan basah, tapi kurang sensitive dibanding kultur. Cara ini dilakukan untuk mendiagnosa secara cepat tapi memerlukan ahli yang terlatih dan mikroskop fluoresensi.

Ada lagi cara Polimerase Chain Reaction. Cara ini telah dibuktikan merupakan cara yang cepat mendeteksi Trichomonas vaginalis.

* Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, di bawah bimbingan dr Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked(PA), Sp.PA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *