Pencegahan Kanker Serviks terhadap Buruh Wanita Ikut Meriahkan Hari Buruh

Posted on

WARTA KOTA, PALMERAH -- Upaya untuk memeriahkan Hari Buruh antara lain dilakukan dengan pencegahan kanker serviks kepada buruh wanita.

Aksi sosial diselengkarakan sejumlah ibu dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker).

Aksi sosial diikuti oleh Istri Menakertrans dan sejumlah ibu di Kemnaker untuk peringati May Day.

Memperingati Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2016, Kementerian Ketenagakerjaan menjalin kerjasama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK‎).

Kegiatan itu berupa “Upaya Peningkatan Kesehatan Tenaga Kerja Wanita dalam Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker pada Perempuan Indonesia 2015-2019.”

Aksi sosial berupa kegiatan penyuluhan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan alat reproduksi para wanita pekerja, yang dimulai sepekan sebelum hari H May Day. 

Aksi ini terpusat di Jawa Tengah, khususnya dilakukan di Semarang dan Kendal, yang meliputi 2.000 wanita pekerja. 

Direktorat Jenderal (Ditjen) PPK dan K3, selaku pelaksana program tersebut, menaruh perhatian (concern) terhadap kesehatan alat reproduksi wanita pekerja.

Sebagaimana dikemukakan Direktur Bina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, DR Dewi Rahayu.

"Dikarenakan penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim, mengancam kesehatan, produktivitas dan harapan hidup wanita pekerja," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (30/4/2016).

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyebab kematian akibat kanker yang terbesar bagi wanita di negara-negara berkembang.

"Secara global, terdapat 600.000 kasus baru dan 300.000 kematian setiap tahunnya, yang hampir 80% terjadi di negara berkembang," kata Dewi.

Saat ini, kanker leher rahim menjadi kanker terbanyak pada wanita Indonesia yaitu sekitar 34% dari seluruh kanker pada perempuan.

Sekarang, ada sejumlah 48 juta perempuan Indonesia berada dalam risiko mendapat kanker leher rahim. 

Kanker yang mematikan ini, kata Dewi, memang mengkhawatirkan.

"Distribusi kasus mencapai puncak dua periode, pada usia 35-39 tahun dan pada usia 60-64 tahun. Usia rata-rata kejadian kanker leher rahim adalah 50 tahun," katanya. 

Untuk mengobati penyakit kanker, lanjutnya, akan menghabiskan biaya yang besar.

"Biayanya mencapai ratusan juta rupiah, maka lebih baik mencegah daripada mengobati, selain biaya pengobatan yang mahal, juga bila diketahuinya sudah stadium lanjut kanker leher rahim memiliki risiko fatal yang tinggi," kata dia.

Untuk mengatasi penyakit keganasan yang banyak menyerang wanita di usia produktif ini, bertepatan dengan peringatan May Day, setelah melakukan penyuluhan kepada ribua pekerja, maka akan dilaksanakan upaya pencegahan melalui deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan inspeksi Visual Asam Amino (IVA-Tes) pada wanita pekerja di Provinsi Jawa Tengah, khususnya Semarang dan Kendal. 

"Bila hasil pemeriksaan positif terdeteksi menderita kanker leher rahim, akan ditindaklanjuti dengan pengobatan melalui BPJS Kesehatan," kata Dewi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *