Wanita Lebih Rentan Terkena Osteoporosis

Posted on

SEMARANG – Penyakit osteoporosis adalah kondisi di mana kepadatan tulang berkurang secara progresif. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan rentan retak. Dokter Ika Syamsul Huda SpPD dari SMF Penyakit Dalam RSUP dr Kariadi mengatakan, perempuan lebih rentan terkena osteoporosis dibandingkan laki-laki. Apalagi ketika usia sudah memasuki usia di atas 30 tahun karena pertumbuhan dan perkembangan tulang sudah mencapai batas maksimal. ”Perbandingannya sebanyak 38 persen penderita osteoporosis adalah wanita, sekitar 8-9 persen adalah lakilaki. Kebanyakan osteoporosis terjadi pada usia lanjut,” ujarnya.

Dia menerangkan, tidak ada gejala untuk penyakit tersebut atau biasa disebut silent sickness. Osteoporosis baru akan disadari penderita ketika terjatuh sedikit bisa mengalami patah tulang. Dia menyebutkan, orang yang memiliki riwayat keluarga mengidap penyakit tersebut berpeluang lebih besar terkena osteoporosis. Misalnya, bapak atau ibu memiliki penyakit tersebut otomatis anaknya berpotensi memiliki risiko lebih besar mengalami osteoporosis. ”Gejalanya tidak khas seperti nyeri-nyeri biasa.

Tapi saya tekankan untuk osteoporosis bukan merupakan penyakit genetik, namun jika memiliki riwayat keluarga yang mempunyai penyakit tersebut maka potensi terkena osteoporosis lebih besar atau faktor risikonya lebih besar,” imbuhnya.

Terapi

Seseorang yang mengalami osteoporosis harus segera ditangani dengan berbagai jenis terapi. Penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan, tapi kondisi kekuatan tulangnya dipertahankan agar lebih baik lagi, sehingga tidak mudah patah. ”Gaya hidup tidak sehat sekarang ini seperti merokok, minum-minuman beralkhohol, konsumsi makanan cepat saji, dan jarang berolahraga bisa meningkatkan faktor risiko osteoporosis.

Seseorang yang sering mengonsumsi obat-obatan seperti steroid atau obat-obat yang menekan sistem imun lebih besar kemungkinan terserang pengeroposan tulang. Sangat disarankan juga untuk melakukan pemeriksaan kepadatan tulang dengan alat yang dinamakan Bone Mineral Densitometry (BMD).” Dia menerangkan, untuk pencegahan penyakit tulang tersebut bisa dilakukan dengan cara rutin berolahraga dan memberikan asupan nutrisi yang cukup terutama vitamin D dan kalsium. ”Olahraga yang baik tentu saja harus dilakukan secara rutin sejak dini dan nutrisinya agar perkembangan tulang lebih maksimal pada puuncak pertumbuhannya.

Contohnya jalan, joging, lari, bersepeda, renang, dan angkat beban merupakan alternatif olahraga yang baik untuk menguatkan tulang,” tandasnya. (fri-71)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *